Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Tri Hita Karana Tiga Titik Keselarasan Hidup



Inilah cerita yang dilahirkan dari Rahim imajinatif Gde Artawan, di ruang kreatif, pada rumah kecil bergaya Bale Meten, di rumah urutan kelimabelas jalan Pulau Samosir empat Singaraja, yang menunjukkan kepadaku bahwa hidup hanya akan dapat terus berputar pada rotasi santhi jika hubungan pada tiga titik, Tri Hita Karana itu, tetap terjaga dan selalu selaras. Inilah perjalanan iar hujan menjadi danau, kemudian terbang bersama angin dan sinar matahari menjadi awan hitam, dan akhirnya lahir kembali menjadi ujan, yang harus aku jaga pada setiap butiran tanah yang menjadi telapak kakiku diwajah matahari dan bulan , seperti Gde Suara, Leny, dan hewan piraannya yang akhirnya harus berkumpul kembali, dalam cerita cerpen “Sepi” karya Gde Artawan itu.

Ujung Sore Liku-Liku Pulau Samosir Singaraja
Oleh I Made Sudarma

Di ujung timur Kota Singaraja, pada wilayah Kubu Jati, beberapa tahun yang lalu, di rumah kecil bergaya bale meten dengan tembok bata yang tidak diplester, aku sering berkunjung ke tempat itu. Halaman rumah yang luas, rumput-rumput jepang menyelinap di antara ketiak beton segi empat yang ditebarkan di seluruh permukaan tanah halaman rumah kecil itu. Bangku kayu hanya membisu pada tatapan manusia-manusia kayu yang selalu tersipu menjaga beranda rumah kecil itu. Di wajah beranda rumah itu, hembusan angin tersesat dalam air yang tidak pernah sampai pada kupu-kupu melepas air, pada kolam kecil yang selalu menjatuhkan air pada buih yang menjadi tebing menuju lumut.
Rumah pada urutan kelima belas, pada liku-liku jalan Pulau Samosir IV Singaraja, di rumah Gde Artawan itu, dulu biasanya berkunjung untuk sekadar menghabiskan ujung sore sambil menikmati menu tentang lezat dan nikmatnya kata-kata, karena aku dan Pak De (begitu aku biasa memanggil Gde Artawan) adalah pengagum kata-kata. Dari rumah kecil itu, aku akhirnya tenggelam dalam lautan sayap makna kata, dan menjadiakan aku sebagai makhluk yang telah menyerahkan diri pada kebesaran kata-kata itu, seperti ombak yang menjadi buih dan menyerahkan diri pada hamparan pasir yang mengecap garam.
Ujung sore pada liku-liku Jalan Pulau Samosir Singaraja itu, tiba-tiba saja menyelinap kembali dalam pintalan ingatanku, dari selembar potongan cerita tentang hidup yang sepi karena putusnya rantai Tri Hita Karana, dalam cerpen “Sepi” karya Gde Artawan, cerpen yang aku kleping dari Bali Post, Oktober 2004, ketika aku masih bermukim di Singaraja.
Dalam cerpen “Sepi” itu, Gde Artawan membicarakan tentang tiga titik yang harus selaras dan harmoni dalam kehidupan, yaitu selaras dengan Tuhan (parahyangan), selaras dengan lingkungan (palemahan), dan selaras antar manusia atau masyarakat (pawongan), yang dibungkus dalam konsep Tri Hita Karana. Kalau tiga titik ini sampai putus, dipastikan hidup manusia tidak akan sejahtera, seperti hujan yang diputus angin pada buah yang menuju tua.
Leny, manusia imajinatip yang dihadirkan Gde Artawan dalam cerpen “Sepi” itu, telah mengkambinghitamkan binatang-binatang peliharaan suaminya, Gde Suara, atas ketidaksanggupannya mempersembahkan anak kepada suaminya. Leny kemudian menyuruh Gde Suara melepaskan, bahkan menjual semua binatang peliharaan suaminya itu. Hal itu karena Leny mendapatkan bisikan dari orang mengaku para normal, yang menyebutkan bahwa dia tidak bisa hamil karena suaminya mengurung binatang-binatang itu. Istrinya mendesak agar dia melepaskan semua hewan piaraan yang selama ini yang ada di rumahnya, karena menurut bisikan orang yang mengaku paranormal, istrinya tidak bisa hamil karena dia memelihara banyak hewan. Untuk itu, semunya harus diberi kebebasan untuk kembali kehabitatnya, jangan dikurung. Mengurung hewan sama dengan mengurung keinginan para leluhur untuk numitis kedunia. “Leny terus mendesak Gde Suara untuk melepaskan hewan-hewan itu, “Aku tidak akan kembali kerumah, jika Beli masih memelihara hewan-hewan itu”.
Dari cerita itu, aku memahami bahwa Gde Suara telah dihadapkan pada dua pilihan ujung tanduk yang sampai pada lapisan tipis kulit telur. Memilih Leny, istri yang dicintainya, atau hewan peliharaanya yang juga dirawat dengan cinta. Pada matahari yang menjelang lahir dari ketiak bukit, Gde Suara harus mengambil keputusan yang tepat. Hewan-hewan peliharaan itu pun akhirnya dilepaskan. Di sinilah, lewat cerpen “Sepi” itu Artawan menceritakan bahwa ketika keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan) harus diputus oleh egoisme, oleh ketidak mampuan manusia yang akhirnya mengkambinghitamkan lingkungan.
Setelah hewan-hewan piaraan itu dilepas, Gde Suara ternyata tidak bisa berkonsentrasi kepada istrinya, berkonsentrasi untuk menunggu kehamilan istrinya dan kelahiran anaknya (karena memang sampai akhir cerita, istrinyatidak kunjung hamil). Akan tetapi, Gde Suara semakin merana karena kehilangan hewan-hewan piaraan itu, “Dari rasa kehilangan muncul rasa kesedihan yang dalam dan berongga, sehingga dada hati Gde Suara seakan tercabik-cabik, ingin menangis karena sesak dihati. Dan rasa sedih, selanjutnya dia digeluti rasa sepi yang sangat dalam. “Aku akhirnya mengerti bahwa pemutusan rantai Tri Hita Karana itu akan dapat menyebabkan hidup menjadi merana dan teramat sepi, seperti musim yang memutus kulit kayu untuk tunas yang mulai tumbuh.
Di akhir cerita cerpen “Sepi” itu, Artawan menampilkan peristiwa imajinatif yang mengejutkan dan luar biasa. Leny diceritakan telah menemukan Gde Suara, suaminya, yang yang menghilang setelah rasa sepi yang menyergapnya. Leny dan Gde Suara diceritakan bertemu dalam kerinduan dan cinta yang cantik suara. Suara-suara burung dan gesekan tubuh anjing sambil menjilat kaki mereka, hewan piaraan yang telah mereka lepaskan itu, menghiasi pertemuan mereka: “Bli,Bli Gde…rasa kangen bercampur haru, bercampur rasa tidak percaya, Leny menyergap tubuh lelaki pendek itu lalumerangkulnya, dan kedua telapak tangan halusnya membelai wajah Gde Suara, mengusap rambutnya dan menciumnya. Sementara itu, burungburung tetap berkicau bersahutan satu sama yang lainnya. Rico, anjing berbulu hitam kecoklatan itu, mengesek-gesekan tubuhnya di kaki Gde Suara sambil terkadang menjilatinya”.
Inilah cerita yang dilahirkan dari Rahim imajinatif Gde Artawan, di ruang kreatif, pada rumah kecil bergaya Bale Meten, di rumah urutan kelimabelas jalan Pulau Samosir empat Singaraja, yang menunjukkan kepadaku bahwa hidup hanya akan dapat terus berputar pada rotasi santhi jika hubungan pada tiga titik, Tri Hita Karana itu, tetap terjaga dan selalu selaras. Inilah perjalanan iar hujan menjadi danau, kemudian terbang bersama angin dan sinar matahari menjadi awan hitam, dan akhirnya lahir kembali menjadi ujan, yang harus aku jaga pada setiap butiran tanah yang menjadi telapak kakiku diwajah matahari dan bulan , seperti Gde Suara, Leny, dan hewan piraannya yang akhirnya harus berkumpul kembali, dalam cerita cerpen “Sepi” karya Gde Artawan itu.






I Made Sudarma
Guru Bahasa Indonesia
SMP Negeri 1 Nusa Penida
Catatan:
Tulisan sudah pernah dimuat oleh harian Bali Post Edisi Minggu Paing, 16 November 2008 pada rubrik apresiasi
Share:

Keseimbangan pada Perbedaan dari Candi Bentar Madue Karang


Diskusiku berakhir ketika matahari menghilang pada langit yang disepuh tembaga. Dan inilah hasil diskusiku dengan menjadi lumut itu. Aku akhirnya mengerti bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi darah dan air mata pada arang dan abu itu. Semoga hasil diskusi singakat ini menjadikan aku dan semua manusia, untuk tidak mengasah perbedaan menjadi sembilu yang memotong urat nadi, tetapi menjadikan perbedaan itu sebagai pelangi pada sinar matahari yang membelah air hujan. Menjadikan perbedaan itu kelopak bunga pada taman yang menjadi wangi.
Kupu-kupu untuk Akar yang Mencari Hidup
Oleh I Made Sudarma

Pada ujung rumput yang sampai pada panas matahari, dalam perjalanan tanah menjadi angin menuju pasir berbuih garam, daun-daun kering anggrek pohon itu telah menjadi kupu-kupu untuk akar yang mencari hidup. Laut masih mengirim ombak pada butiran tanah yang lenyap ditelan daun yang mengibas angin. Matahari mulai tua untuk rumput-rumput kering Kubutambahan ini. Di belahan timur bumi Bali Utara ini, aku pernah berdiskusi dengan batu yang menjadi lumut tentang keseimbangan yang lahir dari rahim perbedaan, pada seni ornamen bangunan candi bentar Pura Madue Karang ini, untuk sebuah feature, untuk sebuah tugas mata kuliah Pembinaan Majalah Sekolah yang aku ambil, ketika aku masih menjadi mahasiswa IKIP Negeri Singaraja (sekarang UNDIKSHA).
Dalam diskusi itu, aku memahami tentang pelangi yang menjadi kelopak bunga, pada ornamen Candi Bentar Pura Madue Karang ini. Karena pada setiap ornament yang menjadi garis wajah candi bentar pura ini, pada bagian kiri dan kanannya, ternyata bentuk-bentuk ornamennya tidak menampilkan sebuah keseragaman. Ornamen dibuat dalam bentuk dan motif yang berbeda untuk satu tujuan dan fungsi, yaitu sebagai pintu masuk pertama pada Pura Madue Karang ini, seperti pelangi pada seribu warna untuk petula Ken Sulasih yang bercerita tentang air dan hujan. Inilah yang mengajarkan aku tentang semangat kemerdekaan seni dari Bali Utara, Buleleng ini. Semangat seni pada ornamen candi bentar Pura Madue Karang ini akhirnya memberitahukan tentang identitas seni Buleleng kepadaku, seni yang sangat menghormati dan menghargai kemerdekaan berkreatifitas untuk mencapai sebuah keseimbangan alam, perbedaan yang tidak melahirkan arang dan abu, seperti mata air yang menjadi sebuah perjalanan untuk mencari muara pada air yang menjadi lumut.
Diskusiku berakhir ketika matahari menghilang pada langit yang disepuh tembaga. Dan inilah hasil diskusiku dengan menjadi lumut itu. Aku akhirnya mengerti bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi darah dan air mata pada arang dan abu itu. Semoga hasil diskusi singakat ini menjadikan aku dan semua manusia, untuk tidak mengasah perbedaan menjadi sembilu yang memotong urat nadi, tetapi menjadikan perbedaan itu sebagai pelangi pada sinar matahari yang membelah air hujan. Menjadikan perbedaan itu kelopak bunga pada taman yang menjadi wangi.





I Made Sudarma
Guru Bahasa Indonesia
SMP Negeri 1 Nusa Penida
Catatan:
Tulisan sudah pernah dimuat oleh harian Bali Post Edisi Minggu Paing, 9 November 2008 pada rubrik apresiasi
Share:

Belajar Berdamai dengan Waktu dari Kapal Roro


Beginilah Roro ini mengajarkan aku dan semua orang-orang Nusa Penida untuk selalu berdamai dengan waktu, seperti induk ayam yang selalu berdamai dengan waktu untuk menunggu pecahnya kulit telur, atau seperti panen yang selalu berdamai pada musim untuk menunggu buah yang menjadi masak. Semoga waktu tidak lagi memecahkan kaca jendela penjualan tiket penyebrangan Nusa Penida-Padangbai, seperti guru yang mengajarkan kepongpong untuk seekor kupu-kupu, berdamai dengan waktu.

Hujan yang Menunggu Buah pada Musim
Oleh I Made Sudarma

Pernahkah kita menjadi hujan yang begitu sabar menunggu buah pada musim, untuk selalu berdamai dengan waktu? Barang kali inilah hujan itu, guru yang membimbing orang-orang Nusa Penida untuk selalu belajar berdamai dengan waktu. Waktu hanya bisa tunduk pada daun yang akhirnya sampai ketanah, pada telor yang akhirnya pecah untuk nafas kehidupan, juga pada bunga yang akhirnya yang menebarkan biji-biji humus. Aku dan orang-orang Nusa Penida harus mulai sabar, bahwa hujan yang mengajarkan untuk berdamai dengan waktu telah lahir di pulau yang oleh pelaut-pelaut Inggris menyebutnya sebagai Bandit Island, Nusa Penida ini. Kapal Roro inilah guru itu, hujan yang mengajarkan aku dan semua orang Nusa Penida untuk selalu berdamai dengan waktu.
Di setiap perjalanan Roro ini, adalah waktu yang menguji setiap kesabaran orang-orang Nusa Penida, seperti panas pada matahari yang menguji kesabaran benih yang sedang disiapkan oleh benang sari dan kepala putik. Waktu coba menjadi sosok yang dibenci dan dan sosok yang membosankan. Pada kaca jendela loket penjualan tiket penyebrangan yang harus pecah dihantam emosi adalah waktu telah berhasil menelan kita dalam kealpaan dan emosi yang membunuh kesabaran. Aku, semua orang-orang Nusa Penida, dan kita semua, harus menjadi induk ayam yang selalu sabar mengerami, menunggu pecahnya kulit telor-telor itu, karena Roro ini akan mengajarkan kita untuk selalu berdamai dengan waktu pada urutan antrean yang harus dibangun. Tidak ada kota yang menjadi berhenti berputar oleh segerombolan bebek yang menyebrang jalan. Bebek-bebek itu telah mampu berdamai dengan waktu, selalu memahami arti tentang pentingnya antre. Kalahkan kita dengan bebek-bebek itu?
Kapal Roro ini akan selalu mengajarkan aku, semua orang Nusa Penida, dan kita semua untuk selalu berdamai dengan waktu, disepanjang perjalanannya membunuh gelombang selat Badung ini. Waktu dibiarkan terus berlari menjauh. Roro belum juga berangkat. Pada saat inilah, Roro telah mengajarkan aku, orang-orang Nusa Penida, dan kita semua, untuk menjadi arjuna sebelum berangkat ke Kuru Setra, arena Bharata Yuda itu, arjuna perlu persiapan, perlu pemikiran, dan perlu strategi, untuk memenangkan Bharata Yuda itu. Pada saat inilah, Roro telah mengajarkan kita semua untuk selalu berdamai, menghargai, dan memanfaatkan waktu, untuk melakukan persiapan sebelum memulai sebuah perjuangan, sebab benih yang tumbuh sangat bergantung dari biji yang disemai. Hujan tidak pernah sampai pada akar sebelum angin mengulum air, mendung itu. Nafas kehidupan baru tidak akan pernah ada sebelum Rahim mengembang kehamilan itu.
“Persiapkanlah dirimu, wahai anak-anaku. Sebentar lagi pelayaran membunuh ombak, mencari identitas diri ini, akan kita mulai”. Begitulah teriakan deru mesin kapal Roro ini ketika masih dipanaskan oleh Sang Nahkoda.
Roro ini masih saja menjadi hujan ketika perjalanan telah sampai di penghujung, di pelabuhan Padangbai. Waktu masih saja menjadi guru untuk selalu bersabar dengan waktu, seperti panen yang menunggu titik hujan terakhir pada musim. Karena, dibibir pelabuhan Padangbai ini, aku dan semua yang ada di dalam Kapal Roro ini harus menghabiskan waktu beberapa menit untuk menunggu Roro ini nyandar.
Waktu telah mengajarkan aku dan semua untuk menghormati antrean, karena Roro ini harus menunggu Kapal Ferry dari Lombok meninggalkan bibir pelabuhan ini. Inilah toleransi yang diajarkan kepada aku dan kita semua, belajar menghormati waktuyang masih menjadi milik orang lain, seperti panas yang selalu menghormati hujan pada kapat.
Beginilah Roro ini mengajarkan aku dan semua orang-orang Nusa Penida untuk selalu berdamai dengan waktu, seperti induk ayam yang selalu berdamai dengan waktu untuk menunggu pecahnya kulit telur, atau seperti panen yang selalu berdamai pada musim untuk menunggu buah yang menjadi masak. Semoga waktu tidak lagi memecahkan kaca jendela penjualan tiket penyebrangan Nusa Penida-Padangbai, seperti guru yang mengajarkan kepongpong untuk seekor kupu-kupu, berdamai dengan waktu.





I Made Sudarma
Guru Bahasa Indonesia
SMP Negeri 1 Nusa Penida

Catatan:
Tulisan sudah pernah dimuat oleh harian Bali Post Edisi Minggu Paing, 19 April 2009 pada rubrik apresiasi


Share:

Aroma Politis Religius Perbatasan Menjadi Api Puputan Klungkung



Bumi dijajah, harga diri diinjak-injak, rakyat Klungkung jengah, kemudian ikut mengangkat senjata melawan Belanda habis-habisan sampai darah takmampu lagi mengalir, karena hari mau yang sedang tidur pun akan terbangun dan memangsa elang yang hinggap di ujung hidungnya. Perlawanan rakyat Klungkung inilah yang dikenang sampai sekarang sebagai Puputan Klungkung. Dalam puputan itu, aku tahu, kematian tidak lagi menakutkan. Kematian dalam peperangan mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan harga diri, sesungguhnya kematian yang akan menempati tempat yang amat mulia, yaitu sorga. Mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan harga diri lebih tinggi nilainya dari pada sebuah kehidupan duniawi. Inilah aroma relegius yang disampaikan helai bulu sayap yang dijatuhkan oleh burung-burung kecil itu kepadaku, untuk menjadi energi pada tiap aliran darahku, tunas yang tumbuh di tanah Klungkung ini.

Angin Yang  Bercerita Dingin Kepada  Tunas Yang Berharap Hujan
Oleh I Made Sudarma

Dari teras asrama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Banjar Angkan ini, sebuah jembatan yang ditarik dari pinggang ketinggian tanah Banjar Angkan menuju pinggang bukit Tulikup, telah sampai pada mataku yang selalu menyimpan tunas-tunas padi sore. Tidak ada catatan yang ditinggalkan oleh air pada tukad yang kering tentang jembatan itu, kecuali aku tahu dari selembar kain usang yang mengalir bersama air irigasi ini, bahwa jembatan itu dibangun dari cita-cita untuk memudahkan perjalanan ekonomi Klungkung-Gianyar yang dicatat pada tiap gumpalan asap hitam, yang muncrat dari knalpot kendaraan yang melintas melewati jembatan itu. Sebuah tiang penyangga jembatan itu menyelinap keluar dari rimbun-rimbun yang menutupi lembah bukit Tulikup. Dan beberapa helai daun melintas, merambat pada tiang itu. Burung-burung kecil pun terbang melintas di atasnya. Dari kibasan selembar bulu sayap yang dijatuhkan oleh burung-burung itu, aku mencium dua aroma angin, angin Klungkung dan angin Gianyar. Aku akhirnya paham bahwa burung-burung itu tiap hari, atau tiap jam, bahkan mungkin tiap menit selalu eksodus dari pohon-pohon bukit Tulikup ke ranting-ranting semua pohon tanah Banjar Angkan. Begitu juga sebaliknya. Burung-burung itu terbang di bawah awan putih yang bergelayut di langit jembatan itu bersama angin yang dikirim oleh lambaian daun-daun sabo yang tumbuh di halaman depan SKB ini kepada pelukan pucuk-pucuk daun kelapa bukit Tulikup itu.
Ketika matahari menjemput malam dari balik bukit Tulikup, ketika semua kegiatan belajarku sampai pada istirahat, saat aku mengikuti diklat prajabatan CPNSD di SKB ini, burung-burung kecil yang melintas di atas jembatan itu mengajak aku menari mengikuti irama gumpalan-gumpalan asap rokok yang aku hembuskan dari nafas hidungku. Burung-burung yang terbang, helai daun yang merambat di tiang penyangga jembatan itu member aku cinta tentang jembatan yang menjaga sebuah perbatasan, seperti angin yang bercerita dingin kepada tunas-tunas yang berharap hujan. Dari jembatan itu, dua wilayah pemerintahan Kabupaten, Klungkung dan Gianyar, dipisahkan dalam bahasa perbatasan.
Jembatan yang selalu mengucapkan selamat dating dan selamat jalan kepada tiap orang yang melewatinya itu, menghembuskan wangi dupa dan meluluhkan aku dalam cerita beraromapolitis dan relegius, berawal dari sebuah perbatasan, yang pernah terjadi di bumi Klungkung ini. Cerita tentang tanah yang menjadi air mata dan menjadi darah pengakuan untuk sebuah perbatasan yang menjadi api, puputan Klungkung itu.
Sebelum jembatan ini dibangun, sebelum menjadi penjaga perbatasan yang selalu menjadi saksi bisu tentang eksodus burung-burung kecil itu, sebuah perbatasan. Klungkung dan Gianyar, pernah menjadi darah dan air mata yang tumpah di bumi Klungkung ini, dalam cerita Puputan Klungkung. Puputan Klungkung menjadi api yang membakar bumi Klungkung karena disulut oleh pertikaian soal perbatasan antara Kerajaan Klungkung dengan Kerajaan Gianyar. Jalan damai, seperti bening dalam bulan yang tenggelam di dalam air kolam, pernah dicoba untuk menyelesaikan persoalan perbatasan ini dengan mengadakan perundingan. Dalam perundingan yang terjebak pada benang kusut, yang terjadi pada tahun 1902 itu, Kerajaan Klungkung diwakili oleh Dewa Agung Putra dan Kerajaan Gianyar yang telahm enjadi “milik” Belanda diwakili oleh Controleur Schwartz dan residen Bali-Lombok, Johanes Eshbach. Seperti umpan yang hendak menjerat ikan pada sungai yang tak berair, Belanda sesungguhnya ingin menguasai Kerajaan Klungkung lewat jerat yang dipasang dalam meja perundingan itu. Hasrat tak pernah sampai, jerat yang dibentangkan Belanda untuk menjerat Kerajaan Klungkung hancur oleh keteguhan hati Raja Klungkung untuk mempertahankan bumi Klungkung ini, karena aku tahu bahwa batu karang yang menjadi tebing akan selalu menjaga tanah dan cerita kehidupan dari air laut yang menjadi lidah ombak bergaram. Dalam perundingan itu, Raja Klungkung hanya mau menyerahkan wilayah Abiansemal dan Sibang, tetapi tetap menolak kalau Belanda mengadakan patroli di wilayah Kerajaan Klungkung.
Seperti sengatan pedas serombotan Klungkung yang sampai pada ujung lidah, kemudian melelehkan ludah yang mengental, netyasemaya itu, pada tanggal 16 april 1908, Laskar Gegel menyerang sepuluh serdadu Belanda yang sedang melakukan patroli di wilayah Kerajaan Klungkung. Belanda tidak menepati janji yang telah disepakati dalam perundingan itu, seperti gerimis yang tak pernah sampai pada hujan dalam hembusan angin bidakjukung nelayan. Dalam penyerangan terhadap serdadu Belanda itu, dua belas prajurit Gelgel gugur mempertahankan kesetiaan pada janji yang telah diucapkan, karena ludah yang telah menjadi tanah enggan pulang keujung lidah. Inilah kesetiaan benang sari dengan kepala putik untuk buah yang menjadi tunas, satya semaya itu.
Mengingkari janji dari hasrat untuk menguasai, Belanda menganggap penyerangan laskar Gelgel itu adalah pembangkangan Kerajaan Klungkung. Sehingga pada tanggal 27 April 1908, Belanda mendaratkan pasukannya di Jumpai. Pada tanggal 28 April 1908, Belanda kemudian melepaskan peluru dari mulut-mulut meriamnya untuk menmghancurkan bumi Klungkung.
Bumi dijajah, harga diri diinjak-injak, rakyat Klungkung jengah, kemudian ikut mengangkat senjata melawan Belanda habis-habisan sampai darah takmampu lagi mengalir, karena hari mau yang sedang tidur pun akan terbangun dan memangsa elang yang hinggap di ujung hidungnya. Perlawanan rakyat Klungkung inilah yang dikenang sampai sekarang sebagai Puputan Klungkung. Dalam puputan itu, aku tahu, kematian tidak lagi menakutkan. Kematian dalam peperangan mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan harga diri, sesungguhnya kematian yang akan menempati tempat yang amat mulia, yaitu sorga. Mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan harga diri lebih tinggi nilainya dari pada sebuah kehidupan duniawi. Inilah aroma relegius yang disampaikan helai bulu sayap yang dijatuhkan oleh burung-burung kecil itu kepadaku, untuk menjadi energi pada tiap aliran darahku, tunas yang tumbuh di tanah Klungkung ini.
Pada preistiwa Puputan itu, tak terhitung berapa banyak darah menetes membasahi bumi Klungkung, kemudian tumbuh menjadi bunga kusuma bangsa. Dari keluarga kerajaan, seratus delapan yang gugur, termasuk wanita dan anak-anak, serta sekitar seribu orang prajurit yang juga gugur. Bahkan demi mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan harga diri, putramah kota, Dewa Agung Gede Agung yang baru berumur dua belas tahun juga ikut mengangkat senjata dalam puputan itu. Dari bunga galing-galing yang mekar pada dinding jembatan itu, aku hirup aroma politis tentang puputan Klungkung itu, bahwa kekalahan tidaklah diikuti dengan penyerahan, akan tetapi diikuti dengan semangat perang sampai habis-habisan, karena buah kelapa yang terusir dari pahangannya itu telah membedakan puyung dan tidak berisi. Aroma ini akan aku hirup dan aku jadikan energy untuk menjaga bumi Klungkung ini.
Inilah cerita tentang Puputan Klungkung yang bergelayut dalam kecintaanku kepada bumi Klungkung ini, yang diingatkan oleh jembatan penjaga perbatasan, jembnatan BanjarAngkan-Tulikup itu. Ketika burung-burung tidak lagi mengibaskan sayapnya pada langit jembatan itu, dan ketika matahari beranjak pulang menuju langit yang menjadi tembaga, langit di balik bukit Tulikup itu, aku masih sendiri di teras asrama SKB ini. Aroma cerita puputan Klungkung ini akan aku hirup dalam-dalam, kemudian aku hembuskan dalam pelukan tanganku terhadap bumi Klungkung ini, seperti pelukan imajinasiku terhadap bintang-bintang dalam tiap hembusan asap rokok ini.






I Made Sudarma
Guru Bahasa Indonesia
SMP Negeri 1 Nusa Penida
Catatan
Tulisan ini sudah pernah dimuat oleh harian Bali Post edisi Minggu Kliwon, 27 April 2008, pada rubrik apresiasi
Share:

Jejak Kupu-kupu Tentang Taksu dan Tengetnya Tanah Nusa Penida




Aku akan selalu merawat sekuntum bunga cangnging yang menyimpan jejak empat kaki kupu-kupu tentang taksu dan tengetnya tanah Nusa Penida ini. Bungan cangnging ini adalah air bening yang membagi wajahku untuk menjaga tanah ini. Jejak kaki kupu-kupu itu adalah dingin dan panas tanah ini. Akan aku bentangkan jejak kupu-kupu ini pada tiap jejak kakiku untuk tanah Nusa Penida, karena anak keledai pun bersumpah untuk tidak tenggelam pada kali kedua, pada tanah yang menjadi kubur yang sama. Semoga empat jejak kaki kupu-kupu itu menjadi sinar bulan untuk bayanganku pada malam, ketika aku akan menjaga taksu, identitas pura yang dibangun di tanah ini, tanah Nusa Penida

Sekuntum Bunga Tunjung Yang Tak Pernah Sampai Pada Akar Air
Oleh I Made Sudarma

Ketika matahari bercerita sore pada langit yang menjadi tembaga, sekuntum Bungan cangnging tergelincir dari cabangnya, di kilir angin yang kehilangan panas. Aku duduk di celabah cubing ini menunggu malam yang buram tak berpenghuni. Sekuntum Bungan cangnging ini jatuh di pabinanku bersama wangi yang dikirim oleh angin. Aku tahu, Bungan cangnging adalah bunga yang terusir dari pohon cangnging tua yang tumbuh di bibir bataran tegalan, tanah berbatu dan berundag-undag, tanah Nusa Penida, di samping cubing ini.

Dari kelopak Bungan cangnging ini, aku menemukan empat jejak kaki kupu-kupu yang pernah hinggap pada bunga ini. Kupu-kupu itu datang seperti angin melintasi samudra, mendaki gunung, hanya untuk hinggap, bukan untuk menghisap madunya tetapi hanya sekadar singgah untuk menikmati dan mengagumi warna-warna kelopaknya pada fotosentesis bakti untuk sinar suci, sinar Tuhan. Bungan cangnging ini adalah tanah Nusa Penida yang tumbuh menjadi bunga, dan menebarkan aroma harum kesetiap angin yang dihirup menjadi nafas, seperti sayap kunang-kunang yang menjadi gemerlip bintang pada sinar bulan yang belum sampai ke tanah. Aku akan merawat Bungan cangnging ini untuk sebuah cermin yang menyisir rambutku setelah malam. Di kelopak Bungan cangnging ini, aku dapatkan pipil tentang tanah yang menjadi bunga. Akupun tahu tentang taksu dan tengetnya tanah Nusa Penida ini pada pura yang dibangun dengan identitas bakti leluhurku, leluhur tanah ini, kepada rahim suci bening yang melahirkanaku dan tanah ini, bakti untuk Tuhan.

Kupu-kupu pertama hinggap pada kelopak Bungan cangnging ini, kemudian terbang bersama angin yang dihembuskan oleh daun-daun menuju Pura Meranting di Batukandik, dan hinggap pada pyramid emas yang dirangkai oleh aroma bunga dan kemenyan. Kupu-kupu ini bernama Covarubias yang mencatat kekagumannya terhadap Pura Meranting pada kelopak cangnging ini, menjadi catatan Island Of Bali. Dalam kekagumannya itu, Covarubias menggoreskan kalimat“The Magnificet stone altar, a Piramidtwelye feet hight surrounded by the torso of women with large breasts supporting on her head a stone throne”untuk Pura Meranting ini. Dari catatan yang digoreskan di kelopak Bungan cangnging ini, aku tahu bahwa Covarubias mengagumi cita rasa seni pada peradaban leluhur Nusa Penida yang mengepul ke langit dari Pura Meranting yang dibangun, sebagai tempat pemujaan dari batu yang sangat bagus berbentuk pyramid dengan ketinggian dua belas kaki, dan sebuah singgasana batu dijunjung oleh seorang wanita cantik yang susunya besar. Inilah persembahan kuwangen dengan kidung-kidung keindahan oleh leluhur Nusa Penida untuk kekuatan yang telah melahirkannya dari Rahim api, air, dan tanah, Tuhan, yang diparafrasekan dengan tempat memuja sinarNya, Pura Meranting itu, yang dibangun dari manah sewangi bunga dan sejernih hujan pada pelangi. Inilah persembahan seni yang tertinggi yang dimiliki oleh leluhur Nusa Penida, yang diajarkan kepadaku. Kekaguman serupa juga aku temukan pada jejak kaki kupu-kupu Stuterhein yang digoreskan pada kelopak Bungan cangnging ini, tentang pura meranting. Pada jejak kaki kupu-kupu itu, aku membacanya bahwa Sanggran pura meranting itu sebagai meghalitica (batubesar) yang disebut sebagai Een Interessante Surya Zetel. Kelopak Bungan cangngingini pun memberitahukan aku tentang kekaguman kupu-kupu Stuterhein akan Pura  Meranting sebagai sebuah singgasana Bhatara Surya yang sangat menarik.

Kupu-kupu yang bernama CJ.Grader juga pernah hinggap dan mennggalkan jejak pada kelopak cangnging ini, lalu terbang menyibak awan yang bertengger di atas langit tanah ini, menuju puncak Nusa Penida, puncak yang sampai pada angin dingin, Pura Puncak Mundi, kemudian hinggap pada batu yang menjadi lumut. Kupu-kupu CJ.Grader mengagumi hal yang paling indah tentang penghormatan terhadap daun-daun kering yang menjadi humus dari pura ini, adalah cara sebagian orang-orang Nusa Penida apabila memugar pura, bangunan lama yang dianggaps angat keramat tidak tersentuh. Apabila mereka ingin bangunan baru, mereka akan mendirikan di samping bangunan lama (peninggalan) yang ada dibuat dengan keadaan dan selera masa kini. Jejak kaki kupu-kupu CJ.Grader yang tertinggal pada kelopak cangging ini mengajari aku tentang cara menghormati bakti leluhur dari peradaban yang dibangun di tanah ini. Malam berganti siang, tetapi peradaban harus tetap dijaga dari sinar kunang-kunang dan nyanyian  burung-burung kecil. Air hujan yang selalu mencari rahim untuk sebuah kelahirannya, laut yang berbuih garam itu, mengajari aku tentang caram enghormati dan menjaga tetamian dari sang pengawit peradabanku.

Jejakkupu-kupu terakhir yang aku temukan pada kelopak cangnging ini adalah jejak kupu-kupu yang bernama Claire Holt. Dari Bungan cangnging ini, kupu-kupu ini kemudian terbang mengibas awan dan memintal angin oleh sepasang sayapnya menuju Pura Dalem Ped, dan hinggap pada sepucuk bunga tunjung yang tak pernah ke akar air. Aku tahu kekaguman  Claire Holt pada Pura Dalem Ped terletak pada lay out pura ini. Dari catatan kekaguman kupu-kupu Claire Holt yang tertinggal di kelopak Bungan cangnging ini, aku semakin tahu bahwa kupu-kupu ini mengagumi tata ruang pura ini yang sangat menarik dengan terdapatnya taman di samping pura. Tata ruang yang demikian tidak lasim pada pura-pura yang ada di Bali. Jejak kupu-kupu Claire Holt pada kelopak cangnging ini juga menggoreskan catatan yang sama terhadap pura Batu Medau dan pura Batu Kuning. Inilah jejak kupu-kupu Claire Holt yang mengingatkan dan mengajariaku tentang keagungan sebuah identitas bakti leluhur kepada Tuhan, pada tataruang Pura Dalem Ped, Pura Batu Medau, dan Pura Batu Kuning, tata ruang hanya ada di tanah ini, tanah Nusa Penida. Akupun mengerti bahwa identitas sangat penting untuk menjadi diri sendiri, tidak perlu sama apalagi seragam karena pelangi tidak perlu cantik pada warna yang lahir pada satu rahim.  Burung kaka tua yang hinggap di pohon gepuh Pura Dalem Ped, yang tertinggal pada jejak kupu-kupu Claire Holt itu, bercerita untukku bahwa tanah Nusa Penida ini selalu merangkai cinta pada mimpi, nafas dan tanah, Tri Hita Karana itu. Kehidupan yang menyulam cinta antara humus, kambium, dan buah untuk tunas yang menjadi tua.

Aku akan selalu merawat sekuntum bunga cangnging yang menyimpan jejak empat kaki kupu-kupu tentang taksu dan tengetnya tanah Nusa Penida ini. Bungan cangnging ini adalah air bening yang membagi wajahku untuk menjaga tanah ini. Jejak kaki kupu-kupu itu adalah dingin dan panas tanah ini. Akan aku bentangkan jejak kupu-kupu ini pada tiap jejak kakiku untuk tanah Nusa Penida, karena anak keledai pun bersumpah untuk tidak tenggelam pada kali kedua, pada tanah yang menjadi kubur yang sama. Semoga empat jejak kaki kupu-kupu itu menjadi sinar bulan untuk bayanganku pada malam, ketika aku akan menjaga taksu, identitas pura yang dibangun di tanah ini, tanah Nusa Penida.




I Made Sudarma

Guru Bahasa Indonesia

SMP Negeri 1 Nusa Penida

Catatan

Tulisan ini sudah pernah dimuat oleh harian Bali Post edisi Minggu Kliwon, 27 April 2008, pada rubrik apresiasi
Share:

Popular Posts

Pengunjung